08 December 2009

Father (Behind True Story) Inspiratif, smoga!


Arul, teman saia bercerita tentang masa kecilya yang cukup mengharukan, tapi juga inspiratif, semoga!

Arul kecil, hidup bersama Ibu dan Ayahnya serta dua orang adik. Adik pertama sudah duduk di kelas III SD dan adik satunya masih kelas I. Memang keluarga yang “produktif”. Mereka tinggal di Jakarta, di daerah Kalibata. Keadaan ekonomi keluarga Arul bisa dibilang pas-pasan tapi tetap berkecukupan. Ayahnya seorang guru SD, tetapi Ia tidak mengajar di SD dimana Arul sekolah.

Sejak kelas IV SD, Arul sudah sering mendapat nasihat dari ayah dan ibunya. Nasihat-nasihat itu seperti medan magnet baginya untuk lebih baik lagi dalam hal belajar. Terutama agar lebih berprestasi dikelas. Ayahnya pun sering menasihati tentang kehidupan yang menurut Arul sendiri, Ia terlalu kecil untuk mencerna dan menerima nasihat itu. Tapi Ia terima dan Ia ingat-ingat selalu nasihat-nasihat dari ayahnya.

Salah satu nasihat yang paling sering di dengarnya dan pasti Ia ingat selamanya adalah, “Arul, kau ini akan pertama. Kau akan jadi contoh bagi adik-adikmu. Kau harus berprestasi di sekolah. Kau harus menjadi yang terbaik. Ayah dan Ibu akan bangga padamu jika kamu bisa dapat ranking pertama di kelas.”. nasihat yang umum. Tetapi juga merupakan “beban” bagi Arul yang saat itu masih duduk di kelas IV SD.

Tapi memang dasar anak kecil, kehidupan di Jakarta yang Ia alami, sama seperti anak-anak kecil lainnya, hanya bermain dan bermain. Sehingga untuk mendapatkan ranking pertama dikelas seperti nasihat ayahnya, memang seperti sulit Arul dapatkan. Walaupun Ia termasuk siswa cerdas di kelasnya.

Tetapi ayahnya seperti tak pernah lelah menasihati Arul. Bahkan sang ayah meng-iming-imingi akan memberikan sepeda jika Arul mendapat ranking pertama dikelas.

Selesai Catur Wulan ke III, ketika pengumuman kenaikan kelas dan ranking, Arul tidak ditemani ayah ibunya seperti anak-anak lainnya. Memang sudah sejak kelas III, Arul dididik oleh ayahnya supaya mandiri. Hari itu, ternyata Arul mendapat ranking ke III. Ia cukup senang. Tapi ketika diperlihatkan pada ayah dan ibunya, Ia seperti mendapat respon yang kurang menyenangkan (dalam persepsi Arul kecil). Pun ketika kelas V, Arul hanya mendapat ranking III (lagi).

Sehingga sejak saat itu, Arul kecil bertekad akan sungguh-sungguh belajar supaya mendapat ranking pertama seperti yang ayahnya inginkan. Dan terutama, Ia ingin ayah ibunya tersenyum bangga padanya.

Singkat cerita, Arul sudah duduk di kelas VI, dan sudah saatnya pengumuman kelulusan plus pengumuman ranking dan pengumuman siswa terbaik dikelas dan di sekolahnya. Ketika kepala sekolah mengumumkan siswa-siswa terbaik disekolahnya, Arul hanya duduk terdiam di barisan paling belakang. Karena lagi-lagi Ia tidak ditemani oleh orang tuanya seperti anak-anak lain.

Kepala sekolah mulai mengumumkan, “untuk siswa terbaik tahun ini, di menangkan oleh kelas VI B…” mendengar kalimat itu, Arul tersentak, “itu kelasku..” batinnya. “…dan didapatkan oleh… Arul Afikar Tahrani..” tepuk tangan pun bergemuruh. Tapi Arul masih bengong dengan pengumuman kepala sekolah tadi. Ia seakan tidak percaya. Ia senang tapi juga tegang, kaget dan tak percaya. Kemudian Ia maju ke atas panggung untuk mendapatkan piala serta buku raportnya. “Andai ayah ada disini…” batinnya.

Setelah turun, Arul bergegas menuju kelas dan mengambil tasnya, lalu langsung berlari menuju rumahnya yang hanya berjarak dua ratus meter dari sekolahnya. Didalam kepalanya sudah terlintas bermaca-macam bayangan. Tentang ayah dan ibunya yang akan bangga padanya, tersenyum padanya, memuji hasil usahanya, juga sepeda yang akan didapatkannya, dan masih banyak lagi bayangan-bayangan indah lainnya.

Ia sudah sangat-sangat tidak sabar ingin segera memberitahukan berita besar ini terutama pada ayahnya yang sering menasihatinya, saking hebat keinginannya, ketika dipanggil oleh Andi, temannya, Arul tak menoleh sedikitpun. Ia ingin segera pulang ke rumah.

Ketika sudah mulai dekat rumah, Arul memperlambat larinya. Ia melihat dari kejauhan banyak sekali orang berkerumun di rumahnya. Berkumpul di teras rumahnya. Ada pak RT, ada Om Iwan, semua keluarganya pun berkumpul, juga masyarakat sekitar. Arul yang masih euphoria dengan ranking pertama dan juara umum pun bingung. “ada apa ini..” kemudian Arul perlahan berjalan mendekati kerumunan disekitar rumahnya. Tiba-tiba om Iwan mendekatinya, lalu memeluknya. Om Iwan menangis. Arul kecil pun tambah bingung. Om Iwan memeluknya sangat erat. Kemudian menuntunnya ke dalam rumah. Tapi tidak melewati pintu depan yang saat itu dipenuhi banyak orang. Ia dibawa om Iwan lewat pintu belakang rumah. Disana pun Arul melihat banyak ibu-ibu yang sibuk membenahi kursi-kursi. Kemudian arul bertanya pada om Iwan, “ada apa, Om? Kok ramai sekali banyak oraang?” Om Iwan tidak menjawab, Ia malah menangis. Ketika sampai didalam rumah yang juga dipenuhi banyak orang, di ruang tengah, Arul melihat sesosok tubuh kaku terbungkus kain putih, disampingnya ada Ibu, sedang memeluknya. Menangisinya. Orrang-orang pun ada yang mengaji, berdoa, memandangi Arul dengan mata yang merah. Arul kecil kemudian bergumam “apakah itu ayah?” sambil menaruh tas dan ingin membuka isinya, termasuk buku raport dan piagam penghargaannya yang akan Ia tunjukkan pada ayah dan ibunya. Tapi om Iwan keburu membawa Arul ke kamar. Berkumpul bersama adik-adiknya… Arul masih terdiam, bingung, berpikir tapi tak tahu apa yang dipikirkannya, tak bisa bicara walau ingin sekali berteriak, Arul hanya duduk terdiam begitu lama. Ia pandangi tasnya…

***

Sekarang, Arul adalah mahasiswa ITB tingkat akhir. Beberapa bulan lagi Ia lulus dan di wisuda. Ia pun memiliki usaha sendiri. Karena Ibunya tak sanggup membiayainya sendirian. Bahkan sekarang Arul yang membantu ibunya membiayai adik-adiknya yang juga kuliah dengan usahanya itu. Sejak saat kematian ayahnya, Arul sudah bertekad untuk menjadi orang yang berhasil, berprestasi, mandiri, supaya bisa menjadi contoh bagi adik-adiknya, seperti yang selalu dinasihatkan ayahnya.

*semoga bermanfaat!

Buat Arul di bandung : Thanx, Brot! :D smoga hafalannya masih “terjaga”! :P

0 komentar:

Theme images by andynwt. Powered by Blogger.

Blogger templates

 

© Kehidupan, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography