22 December 2012

Curahan Hati Ibu Tua




Kira-kira inilah ungkapan seorang ibu ketika sudah tua dan kadang ditelantarkan oleh anak-anaknya.

Disaat aku tua, aku bukan lagi diriku yang dulu,
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

Disaat aku menumpahkan kuah sayuran dibajuku,
Disaat aku tidak lagi mengingat cara mengikat tali sepatu,

Ingatlah saat-saat bagaimana aku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.

Disaat aku dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Dimasa kecilmu, aku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah aku ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Disaat aku membutuhkanmu untuk memandikanku, Janganlah menyalahkanku.
Ingatkah di masa kecilmu, bagaimana aku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi.

Disaat aku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern, Janganlah menertawaiku.
Renungkanlah bagaimana aku dgn sabarnya menjawab setiap "mengapa" yang engkau ajukan disaat itu.

Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku,

Bagaikan dimasa kecilmu aku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Disaat aku melupakan topik pembicaraan kita,
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya, sebenarnya topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada disisiku untuk mendengarkanku, aku telah bahagia.

Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih,
Maklumilah diriku, dukunglah aku, bagaikan aku terhadapmu, disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.

03 November 2012

Antara Cinta, Kebetulan & Pilihan


Rudi sering bingung dengan hidup ini. Terlebih dengan yang namanya kebetulan. Rudi sering berpikir kalo memang Tuhan menciptakan kebetulan, untuk apa ada takdir dan pilihan? Jadi Rudi selalu berpikir “kebetulan itu tidak ada, adanya takdir yang sudah dirancang dengan hebat oleh Sang Maha Perancang.” Katanya enteng. Sama halnya ketika Rudi pertamakali bertemu Rina ditoko bangunan Koh Andri dimana Rudi bekerja paruh waktu disitu (selain kuliah Rudi memang kerja untuk memenuhi sebagian hidupnya di Kota Jogja ini). Pertemuan pertama begitu memorable karena Rudi melihat Rina dengan begitu heboh dan lucu membeli barang yang Rina tidak tahu nama dan bentuknya hanya menyebutkan kegunaannya saja. Rina waktu itu akan membeli engsel pintu untuk memperbaiki pintu kamar kosnya yang rusak. Rudi hapal betul wajah dan tingkah Rina yang lucu itu (manja kenanak-kanakan). Rudi tersenyum kecil dan Rina melihat itu. “senyumnya teduh” pikir Rina. Memang Rudi ketika tertawa terlihat menawan. Gigi-gigi putihnya berderet rapih dan cemerlang.

Kebetulan juga ketika Rudi datang ke acara konser Sheila on 7 ia lagi-lagi secara tidak sengaja bertemu Rina. Mereka hanya saling tatap disitu. Gelapnya malam tak menghalangi cemerlangnya senyum Rudi. Lalu beberapa hari kemudian Rudi juga (kebetulan) bertemu lagi denga Rina di sebuah bioskop ketika sama-sama antri untuk nonton Film. Lagi-lagi Rudi hanya saling pandang dan saling senyum. Hingga pada kebetulan terakhir ketika Rudi sedang membeli pasta gigi favoritnya, close up, dia lagi-lagi bertemu Rina. Di kebetulan terakhir ini Rudi berpikir keras. “Apa mungkin ini masih suatu kebetulan?” Pikir Rudi. Lalu dengan pertimbangan yang agak ribed di otaknya (berpikir keras, berputar-putar). Rudi yang notabene belum pernah mengajak berkenalan seorang wanita manapun secara langsung, akhirnya dia beranikan diri mendekati Rina dengan kaku, kikuk sambil berjalan pelan-pelan dan mengangkat tangannya, dan tak lupa senyumannya ia kembangkan perlahan :)  “hey, nama aku Rudi..” Tak dinanya dan tak diduga ternyata Rina membalas itu dengan senyuman lucu cekikikan. Entah tersepona oleh senyuman Rudi atau memang Rina juga selama ini diam-diam memperhatikan Rudi. Akhirnya obrolan itu berlanjut ke perkenalan yang dalam.

Akhirnya, singkat cerita. Mereka sudah jadian. Mereka berpacaran. Entah mengapa juga mereka bisa jadian. Rudi orangnya cuek, apa adanya, sederhana, polos jadi suka terlihat lucu, dan ternyata dia punya binatang peliharaan. Ia pelihara kucing yang Ia temukan dari toko Koh Andri. Ia kemudian merawatnya dan sekarang hubungan mereka sangat dekat. Ikatan bathin sudah terjalin. Ia beri nama Raja kucingnya itu. Sedangkan Rina orangnya rame, repot, heboh, rempong, ribed, manja dan masih agak kenak-kanakan. Tapi Cinta memang tak diduga. Mereka bisa jadian.

Hingga pada suatu sore. Saat Jogja diguyur hujan lebat. Rudi baru saja selesai kuliah jam trakhir. Ia hendak pulang hanya saja hujan begitu lebat. Rudi memang punya sepeda motor, hanya saja ia malas mengenakana jas hujan. Lalu ketika menunggu di kampus, telfon berdering. Ternyata itu dari teman kos nya. Ipul. “Halo Rud. Tadi Lu kan nitip Raja ke gua. Tapi ternyata gua lupa masukin ke kosan. Tadi gw di sms anak sebelah katanya kucing elu masih diluar kehujanan. Dia ngasih tau pas mau pergi juga jadi sekarang disana gak ada orang dan si Raja keujanan. Elu cepet pulang gih!” Ipul panjang lebar menerangkan. “Wah.. oke-oke aku sekarang pulang!” segera Rudi meluncur ke parkiran. Tapi tiba-tiba HP nya berdering lagi. Ternyata dari pacarnya, Rina. “Halo Sayaang. Aku kejebak nih dikampus keujanaan. Jemput aku yaa!” kata Rina manja. “kamu kan biasanya pulang sama Heni?” jawab Rudi cepat. “ah kamu. Aku pengen pulang sama kamu. Di jemput” jawab Rina masih manja. “aduh maaf Yang. Aku gak bisa kalo sekarang. Disitu masih ada Heni kan? Sama dia aja yah? Kamu kan biasa pulang bareng dia” Rudi sudah diatas motor. "Hmmh. baru sekarang dapet kebetulan yang gak enak, harus milih!" pikir Rudi. “gak maau! Aku pengen di jemput kamu!” Rina agak membentak. “aduh Yaang. Si Raja keujanan tuh di kosan dan disana gak ada oraang. Aku harus kesana buat nolongin diaa.” Rudi makin cemas. “Oh jadi sekarang kamu lebih milih Raja Kucing kamu yang gendut itu daripada aku Pacar kamu?” suara Rina mulai rempong. “Aduh bukan begitu Sayaaang. Kamu kan disitu masih ada Heni, udah sama dia aja dulu. Nanti kalo aku udah selesai nyelametin Raja aku bakal langsung ke kos kamu kok. Yah yah? Kasian loh Raja juga makhluq hidup perlu diselamatkan..!” tuutt. Telfon di tutup dan Rina marah-marah.

Satu jam kemudian setelah Rudi berhasil menyelamatkan Raja. Ia akhirnya mendatangi Rina di kosannya. Dan ternyata memang benar ia sudah ada disana. Dan sudah pasti, ia ngambek. Marah. Bahkan ketika Rudi datang Rina memalingkan mukanya. Ia kerutkan mukanya yang cantik itu. Lalu setelah beberapa menit mereka diem-dieman dengan lucunya. Rudi menghadapkan wajahnya ke depan wajah Rina, lalu tersenyum :) taraaaaa. Rina melihat itu. Deretan gigi yang rapih, putih, bersih, harum mint, dan senyumnya yg ramah, Rina tidak bisa menahan itu. Mengingatkan dia pada pertemuan mereka pertamakali dulu. Akhirnya mereka berpelukan, “Maaf ya Sayaang. Aku emang sayang kamu, tapi aku juga manusia yang masih punya hati buat nyelametin hidup makhluq hidup lain, walaupun itu kucing..” kata Rudi lembut. “iyaa. Aku yang minta maaf. Aku pikir kamu lebih sayang Raja daripada aku. Tapi ternyata kamu emang mulia. Hehe..”
13 October 2012

Curhat Roda Dua kepada Roda Empat


Bapak-Bapak, Ibu-Ibu yang terhormat, Sebelumnya saya mohon maaf bila tulisan berikut kurang berkenan. Kami hanyalah ingin meminta maaf kepada bapak & ibu pengguna roda empat mengenai perilaku kami di jalan raya. Sungguh, kami tidak memiliki maksud untuk 'mengganggu' kenyamanan anda. Bila kami terlihat suka nyerobot kekanan atau kekiri, itu hanyalah karena kami merasa kepanasan. Ini tentunya akibat jaket, helm, sarung tangan, masker, yang kami gunakan di siang bolong. Tentunya rasa kepanasan ini tidak anda rasakan, karena dinginnya hembusan AC yang keluar dari kisi kisi dashboard mobil anda. Sedangkan kami hanya mengandalkan kisi kisi ujung jaket, ataupun bagian bawah helm, he he he.

Bila anda melihat kami mendaki trotoar, ataupun mengambil jalur kanan yang berlawanan, itupun bukan karena kami sok jago. Tapi kami hanya mencari alternatif jalur, sebab seluruh badan jalan tertutup oleh MPV ataupun SUV bapak & ibu. Rasanya kami nggak kuat jika harus menunggu dibelakang knalpot anda, yg belum tentu bebas emisi (maaf ya).

Belum lagi kami takut di PHK, hanya karena telat masuk kerja. Tentunya khusus hal ini, sebagian dari anda tidak perlu absen kan?, kalo masuk kerja? Sebab kalo sebagian besar dari kami, .. minimal dipotong uang transport, hiks!! Belum lagi, kami suka malu bila harus melewati resepsionis nan cantik yang menutup hidung kecil mereka, karena mereka mencium aroma knalpot dan 'bau matahari' dari jaket lusuh kami. Walau deodorant 5 ribuan telah kami semprot, tentu tidak sebanding dg parfum mobil anda yg 50 ribuan plus sejuknya AC mobil anda.

Kami sadar kok, kami jg suka keterlaluan. Tapi kami juga gak pernah memprotes roda empat. Kami cukup tau diri kok, dengan pajak yg super murah kami, sehingga kami harus rela mengalah bila berbicara tentang parkir. Kami cukup puas dengan areal 150 x 50 cm sebagai tempat parkir kami. Tentu berbeda dengan areal parkir bapak-ibu. Memang sih, tarif parkirnya aja beda.

Hmmm, kami juga gak pernah protes kok, terhadap roda empat yang telah oleh pemerintah di-anak emaskan. Jalan tol trilyunan rupiah telah dibangun, diatas gusuran tanah dan rumah kami. Kami harus putar otak mencari tempat tinggal bagi anak dan keluarga, hanya demi bapak-ibu bisa cepat sampai tamasya ke ancol ataupun taman safari.

Ngomong2 tentang tamasya. Memang sih, mungkin anda sering melihat kami berboncengan 3 atau 4 dengan putra putri kami pergi ke dufan. Tapi kami gak yakin, apakah anda melihat kami, memijit tangan, kaki dan bahu mereka yang kecil ditempat parkir. Ini karena cara duduk mereka yg sedikit berakrobat di atas motor kami. Tentunya berbeda dengan lucunya putra-putri anda yang asyik bermain game di dalam mobil, atau tidur pulas di jok belakang.

Kami juga gak keki kok, dengan senyum kecil bapak-ibu, bila melihat kami panik saat hujan turun. Dimana kami harus buru-buru, loncat dari motor, buka jok motor, copot sepatu, dan mengenakan jas hujan. Terkadang kami membayangkan, bila kami ada di posisi anda. Mau gerimis kek, mau hujan gede kek, bodo' amat, cukup putar tuas kecil disamping stir, maka wiper kaca akan bekerja lembut membersihkan air di kaca depan & belakang. Aaaah enaknyaa di mobil.
 
Kami juga gak protes kok, bila mungkin bapak-ibu yang terbiasa menginstruksikan lembur kepada kami. kami cukup mengerti bila anda tidak pernah membayangkan, betapa dinginnya pulang kerja di malam hari dengan motor. Kami cuma berharap, bahwa petuah orang tua, yang mengatakan, kalo kena angin malam bisa kena paru-paru basah, adalah isapan jempol semata. Amit-amiiiit. .!

Kami juga gak protes kok, bila jari jemari anda menjentikkan abu rokoknya lewat jendela, sehingga mengenai jaket kami. Ataupun celana kami harus 'menerima' sampah, yang anda buang lewat jendela. Mungkin kami dengan jaket hitamnya, tampak seperti tong sampah kali yeee. Hi hi hi. Mohon maaf juga bila, kami harus terlihat melotot di depan anda. Hmm sungguh, itu gak sengaja kok, . Sebab selama naik motor, mata kami harus dipicingkan agar tidak kena debu. Naaah begitu berhenti, secara refleks mata kami terbuka lebar, seperti melotot, he he he.Maaf ya pak-bu. Peace !!!

Memang siiih, kami sering bikin masalah di jalan raya, tapi setidaknya,
kaum kami belum pernah punya kesempatan bikin masalah buat negara ini.
(Jadi gak enak nerusinnya)

Memang siiih, rata rata dari kami tidak berpendidikan. Walau beberapa rekan kami masih setia berprofesi pengojek untuk mengantar kaum berpendidikan nan terhormat ke tujuan, bila mereka diburu waktu atau hampir terlambat.

Memang siih, rata-rata dari kami gak memiliki tata krama. Karena kami gak punya cukup uang untuk belajar di tempat kursus kepribadian ataupun pelatihan image development. (SD aja DO ? hiks!). Tapi setidaknya, kami cukup tau diri kok, untuk tetap menganggukan kepala kepada bapak-ibu duluan plus senyum manis, bila kami bertemu anda di koridor kantor. Ataupun menjauh dari bapak-ibu yang sedang bercengkrama di lobi menunggu lift, karena celana dan sepatu kami tampak kotor terciprat air jalanan akibat sedan mewah anda menyalip kami.

Namun kami cukup terhibur kok, bila kami dapat mendengar sayup sayup lagu kesukaan kami, saat kita bersanding manis di lampu merah. Hilang rasa penat bahu dan pinggang kami, bila dentuman sound system anda membagi lagunya lewat kisi kisi jendela. He he he, pernah gak anda melihat kami juga terkadang mengangguk-anggukan kepala mengikuti lagu anda, walo cuma 10-20 detik. Jadi malu....

Namun kami cukup terhibur kok, dengan sigapnya pak presiden menaiki motor roda dua untuk meresmikan balapan mobil, hiks. Walau kami tau persis, itu hanya gara gara terlalu banyak roda empat yang membuat jalan tol menjadi padat. Sehingga pihak protokoler takut pak Presiden datang telat. Padahal mesin dan knalpot mobil balap dari negara asing, udah gak sabar buat melesat, hanya untuk bisa dibilang sebagai yang tercepat, dan rebutan trophy segede knalpot motor untuk mereka angkat. What an ironic...

Namun, kami cukup terhibur juga kok, dengan iklan di TV. Dimana banyak artis nan ganteng dan cantik, artis senior maupun junior, politikus, budayawan, berebut mengiklankan motor untuk kami. Walau kami tau persis, gak mungkin mereka pergi shooting atau menghadiri gala dinner dengan motor bebek. Sebab kami tau persis, mereka gak pernah direpotkan oleh naik dan turun dari mobil, karena supir nan setia, membukakan pintu belakang bagi mereka.

Yaahhh, kami gak bermaksud membela diri siih. Kami cuma mau sharing aja kok, kepada anda pengendara mobil roda empat, bahwa rasa sebel, muak, benci anda terhadap kami, sudah kami bayar kok dengan kondisi di atas.
Tuhan Maha Adil kan?

Theme images by andynwt. Powered by Blogger.

Blogger templates

 

© Kehidupan, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography