26 July 2019
Test
01 April 2013

Kisah Nyata Pembunuh Terencana: seorang anak 8 tahun yang CERDAS!


Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana.

Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah terbayang muka keji Hanibal Lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.

Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak berumur 8 tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.

Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat anak-anak.

Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?

Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum genap berusia tujuh tahun.Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu tinggi.

Berita ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan pisau dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya.

"Siapa yang bunuh ayah saya!" teriaknya kepada orang yang ada di tempat itu.

"Gue terus kenapa?" ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil disambut gelak tawa di belakangnya.

Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke kantor polisi.

"Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!" ujar kepala lapas yang ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.

Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun. Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan. Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu kantung sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara.

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat lho waktu wawancara usianya baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung udara panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras.

Kebetulan pula di Lapas anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya. 2-0 untuk arif. Ia keluar penjara ke dua kalinya.

Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpan di dalam kamarnya. Tahu bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian paling aman sebelum memutuskan untuk kabur.

Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruang ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan Tanya saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Arif.

Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah.Pelarian-pelariannya didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil Omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan, pulang!

Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.

"Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya singkat.

Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, kebijakan bertindak cepat menangkap pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya saat ini anak pintar dan rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini.Dan kreativitasnya yang tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain.

Sayangnya si Arif itu cuma anak pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya keadilan di negeri ini!


Sumber
20 January 2013

Tukang Kayu & Sebuah Arloji


Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu.

Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.

Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.

Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, dan berhasil menemukan arloji itu.

“Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?”, tanya si tukang kayu.

“Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada”, jawab anak itu.

Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam ‘kesibukan dan kegaduhan’. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan.

“Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.”


sumber
22 December 2012

Curahan Hati Ibu Tua




Kira-kira inilah ungkapan seorang ibu ketika sudah tua dan kadang ditelantarkan oleh anak-anaknya.

Disaat aku tua, aku bukan lagi diriku yang dulu,
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

Disaat aku menumpahkan kuah sayuran dibajuku,
Disaat aku tidak lagi mengingat cara mengikat tali sepatu,

Ingatlah saat-saat bagaimana aku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.

Disaat aku dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Dimasa kecilmu, aku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah aku ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Disaat aku membutuhkanmu untuk memandikanku, Janganlah menyalahkanku.
Ingatkah di masa kecilmu, bagaimana aku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi.

Disaat aku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern, Janganlah menertawaiku.
Renungkanlah bagaimana aku dgn sabarnya menjawab setiap "mengapa" yang engkau ajukan disaat itu.

Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku,

Bagaikan dimasa kecilmu aku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Disaat aku melupakan topik pembicaraan kita,
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya, sebenarnya topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada disisiku untuk mendengarkanku, aku telah bahagia.

Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih,
Maklumilah diriku, dukunglah aku, bagaikan aku terhadapmu, disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.

03 November 2012

Antara Cinta, Kebetulan & Pilihan


Rudi sering bingung dengan hidup ini. Terlebih dengan yang namanya kebetulan. Rudi sering berpikir kalo memang Tuhan menciptakan kebetulan, untuk apa ada takdir dan pilihan? Jadi Rudi selalu berpikir “kebetulan itu tidak ada, adanya takdir yang sudah dirancang dengan hebat oleh Sang Maha Perancang.” Katanya enteng. Sama halnya ketika Rudi pertamakali bertemu Rina ditoko bangunan Koh Andri dimana Rudi bekerja paruh waktu disitu (selain kuliah Rudi memang kerja untuk memenuhi sebagian hidupnya di Kota Jogja ini). Pertemuan pertama begitu memorable karena Rudi melihat Rina dengan begitu heboh dan lucu membeli barang yang Rina tidak tahu nama dan bentuknya hanya menyebutkan kegunaannya saja. Rina waktu itu akan membeli engsel pintu untuk memperbaiki pintu kamar kosnya yang rusak. Rudi hapal betul wajah dan tingkah Rina yang lucu itu (manja kenanak-kanakan). Rudi tersenyum kecil dan Rina melihat itu. “senyumnya teduh” pikir Rina. Memang Rudi ketika tertawa terlihat menawan. Gigi-gigi putihnya berderet rapih dan cemerlang.

Kebetulan juga ketika Rudi datang ke acara konser Sheila on 7 ia lagi-lagi secara tidak sengaja bertemu Rina. Mereka hanya saling tatap disitu. Gelapnya malam tak menghalangi cemerlangnya senyum Rudi. Lalu beberapa hari kemudian Rudi juga (kebetulan) bertemu lagi denga Rina di sebuah bioskop ketika sama-sama antri untuk nonton Film. Lagi-lagi Rudi hanya saling pandang dan saling senyum. Hingga pada kebetulan terakhir ketika Rudi sedang membeli pasta gigi favoritnya, close up, dia lagi-lagi bertemu Rina. Di kebetulan terakhir ini Rudi berpikir keras. “Apa mungkin ini masih suatu kebetulan?” Pikir Rudi. Lalu dengan pertimbangan yang agak ribed di otaknya (berpikir keras, berputar-putar). Rudi yang notabene belum pernah mengajak berkenalan seorang wanita manapun secara langsung, akhirnya dia beranikan diri mendekati Rina dengan kaku, kikuk sambil berjalan pelan-pelan dan mengangkat tangannya, dan tak lupa senyumannya ia kembangkan perlahan :)  “hey, nama aku Rudi..” Tak dinanya dan tak diduga ternyata Rina membalas itu dengan senyuman lucu cekikikan. Entah tersepona oleh senyuman Rudi atau memang Rina juga selama ini diam-diam memperhatikan Rudi. Akhirnya obrolan itu berlanjut ke perkenalan yang dalam.

Akhirnya, singkat cerita. Mereka sudah jadian. Mereka berpacaran. Entah mengapa juga mereka bisa jadian. Rudi orangnya cuek, apa adanya, sederhana, polos jadi suka terlihat lucu, dan ternyata dia punya binatang peliharaan. Ia pelihara kucing yang Ia temukan dari toko Koh Andri. Ia kemudian merawatnya dan sekarang hubungan mereka sangat dekat. Ikatan bathin sudah terjalin. Ia beri nama Raja kucingnya itu. Sedangkan Rina orangnya rame, repot, heboh, rempong, ribed, manja dan masih agak kenak-kanakan. Tapi Cinta memang tak diduga. Mereka bisa jadian.

Hingga pada suatu sore. Saat Jogja diguyur hujan lebat. Rudi baru saja selesai kuliah jam trakhir. Ia hendak pulang hanya saja hujan begitu lebat. Rudi memang punya sepeda motor, hanya saja ia malas mengenakana jas hujan. Lalu ketika menunggu di kampus, telfon berdering. Ternyata itu dari teman kos nya. Ipul. “Halo Rud. Tadi Lu kan nitip Raja ke gua. Tapi ternyata gua lupa masukin ke kosan. Tadi gw di sms anak sebelah katanya kucing elu masih diluar kehujanan. Dia ngasih tau pas mau pergi juga jadi sekarang disana gak ada orang dan si Raja keujanan. Elu cepet pulang gih!” Ipul panjang lebar menerangkan. “Wah.. oke-oke aku sekarang pulang!” segera Rudi meluncur ke parkiran. Tapi tiba-tiba HP nya berdering lagi. Ternyata dari pacarnya, Rina. “Halo Sayaang. Aku kejebak nih dikampus keujanaan. Jemput aku yaa!” kata Rina manja. “kamu kan biasanya pulang sama Heni?” jawab Rudi cepat. “ah kamu. Aku pengen pulang sama kamu. Di jemput” jawab Rina masih manja. “aduh maaf Yang. Aku gak bisa kalo sekarang. Disitu masih ada Heni kan? Sama dia aja yah? Kamu kan biasa pulang bareng dia” Rudi sudah diatas motor. "Hmmh. baru sekarang dapet kebetulan yang gak enak, harus milih!" pikir Rudi. “gak maau! Aku pengen di jemput kamu!” Rina agak membentak. “aduh Yaang. Si Raja keujanan tuh di kosan dan disana gak ada oraang. Aku harus kesana buat nolongin diaa.” Rudi makin cemas. “Oh jadi sekarang kamu lebih milih Raja Kucing kamu yang gendut itu daripada aku Pacar kamu?” suara Rina mulai rempong. “Aduh bukan begitu Sayaaang. Kamu kan disitu masih ada Heni, udah sama dia aja dulu. Nanti kalo aku udah selesai nyelametin Raja aku bakal langsung ke kos kamu kok. Yah yah? Kasian loh Raja juga makhluq hidup perlu diselamatkan..!” tuutt. Telfon di tutup dan Rina marah-marah.

Satu jam kemudian setelah Rudi berhasil menyelamatkan Raja. Ia akhirnya mendatangi Rina di kosannya. Dan ternyata memang benar ia sudah ada disana. Dan sudah pasti, ia ngambek. Marah. Bahkan ketika Rudi datang Rina memalingkan mukanya. Ia kerutkan mukanya yang cantik itu. Lalu setelah beberapa menit mereka diem-dieman dengan lucunya. Rudi menghadapkan wajahnya ke depan wajah Rina, lalu tersenyum :) taraaaaa. Rina melihat itu. Deretan gigi yang rapih, putih, bersih, harum mint, dan senyumnya yg ramah, Rina tidak bisa menahan itu. Mengingatkan dia pada pertemuan mereka pertamakali dulu. Akhirnya mereka berpelukan, “Maaf ya Sayaang. Aku emang sayang kamu, tapi aku juga manusia yang masih punya hati buat nyelametin hidup makhluq hidup lain, walaupun itu kucing..” kata Rudi lembut. “iyaa. Aku yang minta maaf. Aku pikir kamu lebih sayang Raja daripada aku. Tapi ternyata kamu emang mulia. Hehe..”
13 October 2012

Curhat Roda Dua kepada Roda Empat


Bapak-Bapak, Ibu-Ibu yang terhormat, Sebelumnya saya mohon maaf bila tulisan berikut kurang berkenan. Kami hanyalah ingin meminta maaf kepada bapak & ibu pengguna roda empat mengenai perilaku kami di jalan raya. Sungguh, kami tidak memiliki maksud untuk 'mengganggu' kenyamanan anda. Bila kami terlihat suka nyerobot kekanan atau kekiri, itu hanyalah karena kami merasa kepanasan. Ini tentunya akibat jaket, helm, sarung tangan, masker, yang kami gunakan di siang bolong. Tentunya rasa kepanasan ini tidak anda rasakan, karena dinginnya hembusan AC yang keluar dari kisi kisi dashboard mobil anda. Sedangkan kami hanya mengandalkan kisi kisi ujung jaket, ataupun bagian bawah helm, he he he.

Bila anda melihat kami mendaki trotoar, ataupun mengambil jalur kanan yang berlawanan, itupun bukan karena kami sok jago. Tapi kami hanya mencari alternatif jalur, sebab seluruh badan jalan tertutup oleh MPV ataupun SUV bapak & ibu. Rasanya kami nggak kuat jika harus menunggu dibelakang knalpot anda, yg belum tentu bebas emisi (maaf ya).

Belum lagi kami takut di PHK, hanya karena telat masuk kerja. Tentunya khusus hal ini, sebagian dari anda tidak perlu absen kan?, kalo masuk kerja? Sebab kalo sebagian besar dari kami, .. minimal dipotong uang transport, hiks!! Belum lagi, kami suka malu bila harus melewati resepsionis nan cantik yang menutup hidung kecil mereka, karena mereka mencium aroma knalpot dan 'bau matahari' dari jaket lusuh kami. Walau deodorant 5 ribuan telah kami semprot, tentu tidak sebanding dg parfum mobil anda yg 50 ribuan plus sejuknya AC mobil anda.

Kami sadar kok, kami jg suka keterlaluan. Tapi kami juga gak pernah memprotes roda empat. Kami cukup tau diri kok, dengan pajak yg super murah kami, sehingga kami harus rela mengalah bila berbicara tentang parkir. Kami cukup puas dengan areal 150 x 50 cm sebagai tempat parkir kami. Tentu berbeda dengan areal parkir bapak-ibu. Memang sih, tarif parkirnya aja beda.

Hmmm, kami juga gak pernah protes kok, terhadap roda empat yang telah oleh pemerintah di-anak emaskan. Jalan tol trilyunan rupiah telah dibangun, diatas gusuran tanah dan rumah kami. Kami harus putar otak mencari tempat tinggal bagi anak dan keluarga, hanya demi bapak-ibu bisa cepat sampai tamasya ke ancol ataupun taman safari.

Ngomong2 tentang tamasya. Memang sih, mungkin anda sering melihat kami berboncengan 3 atau 4 dengan putra putri kami pergi ke dufan. Tapi kami gak yakin, apakah anda melihat kami, memijit tangan, kaki dan bahu mereka yang kecil ditempat parkir. Ini karena cara duduk mereka yg sedikit berakrobat di atas motor kami. Tentunya berbeda dengan lucunya putra-putri anda yang asyik bermain game di dalam mobil, atau tidur pulas di jok belakang.

Kami juga gak keki kok, dengan senyum kecil bapak-ibu, bila melihat kami panik saat hujan turun. Dimana kami harus buru-buru, loncat dari motor, buka jok motor, copot sepatu, dan mengenakan jas hujan. Terkadang kami membayangkan, bila kami ada di posisi anda. Mau gerimis kek, mau hujan gede kek, bodo' amat, cukup putar tuas kecil disamping stir, maka wiper kaca akan bekerja lembut membersihkan air di kaca depan & belakang. Aaaah enaknyaa di mobil.
 
Kami juga gak protes kok, bila mungkin bapak-ibu yang terbiasa menginstruksikan lembur kepada kami. kami cukup mengerti bila anda tidak pernah membayangkan, betapa dinginnya pulang kerja di malam hari dengan motor. Kami cuma berharap, bahwa petuah orang tua, yang mengatakan, kalo kena angin malam bisa kena paru-paru basah, adalah isapan jempol semata. Amit-amiiiit. .!

Kami juga gak protes kok, bila jari jemari anda menjentikkan abu rokoknya lewat jendela, sehingga mengenai jaket kami. Ataupun celana kami harus 'menerima' sampah, yang anda buang lewat jendela. Mungkin kami dengan jaket hitamnya, tampak seperti tong sampah kali yeee. Hi hi hi. Mohon maaf juga bila, kami harus terlihat melotot di depan anda. Hmm sungguh, itu gak sengaja kok, . Sebab selama naik motor, mata kami harus dipicingkan agar tidak kena debu. Naaah begitu berhenti, secara refleks mata kami terbuka lebar, seperti melotot, he he he.Maaf ya pak-bu. Peace !!!

Memang siiih, kami sering bikin masalah di jalan raya, tapi setidaknya,
kaum kami belum pernah punya kesempatan bikin masalah buat negara ini.
(Jadi gak enak nerusinnya)

Memang siiih, rata rata dari kami tidak berpendidikan. Walau beberapa rekan kami masih setia berprofesi pengojek untuk mengantar kaum berpendidikan nan terhormat ke tujuan, bila mereka diburu waktu atau hampir terlambat.

Memang siih, rata-rata dari kami gak memiliki tata krama. Karena kami gak punya cukup uang untuk belajar di tempat kursus kepribadian ataupun pelatihan image development. (SD aja DO ? hiks!). Tapi setidaknya, kami cukup tau diri kok, untuk tetap menganggukan kepala kepada bapak-ibu duluan plus senyum manis, bila kami bertemu anda di koridor kantor. Ataupun menjauh dari bapak-ibu yang sedang bercengkrama di lobi menunggu lift, karena celana dan sepatu kami tampak kotor terciprat air jalanan akibat sedan mewah anda menyalip kami.

Namun kami cukup terhibur kok, bila kami dapat mendengar sayup sayup lagu kesukaan kami, saat kita bersanding manis di lampu merah. Hilang rasa penat bahu dan pinggang kami, bila dentuman sound system anda membagi lagunya lewat kisi kisi jendela. He he he, pernah gak anda melihat kami juga terkadang mengangguk-anggukan kepala mengikuti lagu anda, walo cuma 10-20 detik. Jadi malu....

Namun kami cukup terhibur kok, dengan sigapnya pak presiden menaiki motor roda dua untuk meresmikan balapan mobil, hiks. Walau kami tau persis, itu hanya gara gara terlalu banyak roda empat yang membuat jalan tol menjadi padat. Sehingga pihak protokoler takut pak Presiden datang telat. Padahal mesin dan knalpot mobil balap dari negara asing, udah gak sabar buat melesat, hanya untuk bisa dibilang sebagai yang tercepat, dan rebutan trophy segede knalpot motor untuk mereka angkat. What an ironic...

Namun, kami cukup terhibur juga kok, dengan iklan di TV. Dimana banyak artis nan ganteng dan cantik, artis senior maupun junior, politikus, budayawan, berebut mengiklankan motor untuk kami. Walau kami tau persis, gak mungkin mereka pergi shooting atau menghadiri gala dinner dengan motor bebek. Sebab kami tau persis, mereka gak pernah direpotkan oleh naik dan turun dari mobil, karena supir nan setia, membukakan pintu belakang bagi mereka.

Yaahhh, kami gak bermaksud membela diri siih. Kami cuma mau sharing aja kok, kepada anda pengendara mobil roda empat, bahwa rasa sebel, muak, benci anda terhadap kami, sudah kami bayar kok dengan kondisi di atas.
Tuhan Maha Adil kan?

28 September 2012

Jad, Pria Yahudi yang Mengislamkan Jutaan Orang

''Mengapa seorang Ibrahim yang tidak berpendidikan dapat mengislamkan putraku,'' ujar sang ibu terheran-heran. Sedangkan dia yang berpendidikan tinggi tak mampu menarik hati putranya sendiri kepada agama Yahudi.

Lima puluh tahun lalu di Prancis, Jad bertetangga dengan seorang pria Turki berusia 50 tahun. Pria tersebut bernama Ibrahim. Ia memiliki toko makanan yang letaknya di dekat apartemen tempat keluarga Jad tinggal. Saat itu usia Jad baru tujuh tahun.

Jad seringkali membeli kebutuhan rumah tangga di toko Ibrahim. Setiap kali akan meninggalkan toko, Jad selalu mengambil coklat di toko Ibrahim tanpa izin alias mencuri.

Pada suatu hari, Jad lupa tak mengambil coklat seperti biasa. Tiba-tiba, Ibrahim memanggilnya dan berkata bahwa Jad melupakan coklatnya. Tentu saja Jad sangat terkejut, karena ternyata selama ini Ibrahim mengetahui coklatnya dicuri. Jad tak pernah menyadari hal tersebut, dia pun kemudian meminta maaf dan takut Ibrahim akan melaporkan kenakalannya pada orang tua Jad.

"Tak apa. Yang penting kamu berjanji tidak akan mengambil apapun tanpa izin. Lalu, setiap kali kamu keluar dari sini, ambillah cokelat, itu semua milikmu!" ujar Ibrahim. Jad pun sangat gembira.

Waktu berlalu, tahun berubah. Ibrahim yang seorang Muslim menjadi seorang teman bahkan seperti ayah bagi Jad, si anak Yahudi. Sudah menjadi kebiasaan Jad, dia akan berkonsultasi pada Ibrahim setiap kali menghadapi masalah.

Dan setiap kali Jad selesai bercerita, Ibrahim selalu mengeluarkan sebuah buku dari laci lemari, memberikannya pada Jad dan menyuruhnya membuka buku tersebut secara acak. Saat Jad membukanya, Ibrahim kemudian membaca dua lembar dari buku tersebut kepada Jad dan memberikan saran dan solusi untuk masalah Jad. Hal tersebut terus terjadi.

Hingga berlalu 14 tahun, Jad telah menjadi seorang pemuda tampan berusia 24 tahun. Sementara Ibrahim telah berusia 67 tahun.

Hari kematian Ibrahim pun tiba. Namun sebelum meninggal, dia telah menyiapkan kotak berisi buku yang selalu dia baca acapkali Jad berkonsultasi. Ibrahim menitipkannya kepada anak-anaknya untuk diberikan kepada Jad sebagai sebuah hadiah.

Mendengar kematian Ibrahim, Jad sangat berduka dan hatinya begitu terguncang. Karena selama ini, Ibrahim satu-satunya teman sejati bagi Jad, yang selalu memberikan solusi atas semua masalah yang dihadapinya.

Selama 17 tahun, Ibrahim selalu mempelakukan Jad dengan baik. Dia tak pernah memanggil Jad dengan "Hei Yahudi" atau "Hei kafir" bahkan Ibrahim pun tak pernah mengajak Jad kepada agama Islam.

***

Hari berlalu, setiap kali tertimpa masalah, dia selalu teringat Ibrahim. Jad pun kemudian mencoba membuka halaman buku pemberian Ibrahim. Namun, buku tersebut berbahasa arab, Jad tak bisa membacanya. Ia pun pergi menemui salah satu temannya yang berkebangsaan Tunisia. Jad meminta temannya tersebut untuk membaca dua lembar dari buku tersebut. Persis seperti apa yang biasa Ibrahim lakukan untuk Jad.

Teman Jad pun kemudian membaca dan menjelaskan arti dua lembar dari buku yang dia baca kepada Jad. Ternyata, apa yang dibaca sangat pas pada masalah yang tengah dihadapi Jad. Temannya pun memberikan solusi untuk masalah Jad.

Rasa keingin tahuannya terhadap buku itu pun tak bisa lagi dibendung. Ia pun menanyakan pada kawannnya, "Buku apakah ini?" tanyanya. Temannya pun menjawab, "Ini adalah Alquran, kitab suci umat Isam," ujarnya.

Jad tak percaya sekaligus merasa kagum. Jad pun kembali bertanya, "Bagaimana cara menjadi seorang Muslim?"

Temannya menjawab, "Dengan mengucapkan syahadat dan mengikuti syariat." Kemudian, Jad pun memeluk agama Islam.

Setelah menjadi Muslim, Jad mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani. Nama tersebut diambil sebagai ungkapan penghormatan kepada Al-Qur'an yang begitu istimewa dan mampu menjawab semua permasalahan hidupnya selama ini.

Sejak itu, Jad memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupya untuk menyebarkan ajaran yang ada pada Alquran.

Suatu hari, Jadullah membuka halaman Alquran pemberian Ibrahim dan menemukan sebuah lembaran. Lembaran tersebut bergambar peta dunia, ditandatangani Ibrahim dan bertuliskan ayat An-Nahl 125.

"Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik..." Jad pun kemudian yakin bahwa lembaran tersebut merupakan keinginan Ibrahim untuk dilaksanakan oleh Jad.

Jadullah pun meninggalkan Eropa dan pergi berdakwah ke negara-negara Afrika. Salah satu negara yang dikunjunginya yakni Kenya, di bagian selatan Sudan dimana mayoritas penduduk negara tersebut beragama Kristen.

Jadullah berhasil mengislamkan lebih dari enam juta orang dari suku Zolo. Jumlah ini hanya dari satu suku tersebut, belum lagi suku lain yang berhasil dia Islamkan. Subhanallah.

***

Jad adalah seorang pria keturunan Yahudi. Di pertengahan hidupnya, ia memeluk agama Islam. Setelah bersyahadat, ia mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qur'ani.

Jadi pun memutuskan hidupnya untuk berkhidmat dalam dakwah Islamiyah. Dia berdakwah ke negara-negara Afrika dan berhasil mengislamkan jutaan orang.

Sejatinya, Ibunda Jadullah adalah Yahudi fanatik, seorang dosen di salah satu lembaga tinggi. Namun di tahun 2005, dua tahun setelah kematian Jadullah, ibunya memeluk agama Islam.

Ibunda Jadullah menuturkan, putranya menghabiskan usianya dengan berdakwah. Dia mengaku telah melakukan beragam cara untuk mengembalikan putranya pada agama Yahudi. Namun, selalu gagal.

27 September 2012

Setitik Cahaya untuk Kehidupan


 sumber gambar dari --> Sini


Sore itu, tanggal 17 juni 1988, Desaku diguyur hujan yang begitu lebat. Masyarakat kebanyakan mengurung diri dirumah masing-masing karena hujan disertai angin dan petir yang dahsyat. Lebih baik berdiam diri atau memilih tidur mungkin pikir mereka. Tapi di rumahku sedang begitu banyak orang, mereka adalah keluargaku dan saudara-saudaraku. Karena sedang terjadi momen penting yang sangat bersejarah dalam hidupku, yaitu lahirnya aku ke dunia ini. Momen penting antara hidup dan mati Ibuku, juga hidupku. Bu Bidan Sumi yang membantu Ibuku melahirkan dengan sigap menangani segalanya. Ia dibantu seorang assisten, memerintah mengambil ini itu, sementara riuh rendah gaduh dan perasaan cemas begitu terasa di ruang tamu tempat berkumpulnya keluargaku. Ketika tiba-tiba beberapa saat lagi Bidan Sumi mengeluarkan Aku, waktu itu tepat sedang memegang kepalaku, tiba-tiba “prrrtt..” lampu mati, suasana menjadi gelap, riuh rendah di luar semakin gaduh, teriakan ibu-ibu dan wanita memenuhi rumahku. Ternyata listrik padam. Namun beruntung, Bidan Sumi yang telah berpengalaman membantu proses persalinan di Desaku akhirnya bisa dengan hati-hati mengeluarkan aku ke dunia yang indah ini.


***


Jakarta, 12 Agustus 2011. Tepat hari ini aku aku akan dioperasi di salah satu rumah sakit kecil di kota yang besar ini. Tepatnya pukul 11.00 WIB siang. Aku akan menjalani operasi Sinusitis. Operasi ini dilakukan dengan memasukan beberapa peralatan kedalam hidung. AKu memang sudah sejak lama mengidap suatu penyakit dalam hidungku yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Sehingga setelah beberpa kali aku mengkonsumsi obat saja, akhirnya Dokter menyarankanku agar melakukan operasi. Waktu menunjukan pukul 10.45 WIB, aku ditemani suami tercinta yang sudah sejak tadi menunggu Dokter yang akan menangani proses persalinan operasi sinusitisku. Lalu tiba-tiba “JZZzzz..” terdengar seperti suara mesin mati. Ternyata listrik padam. Aku berpikir, “ah mungkin hanya sementara..”. lalu aku lanjutkan obrolan dengan suamiku. Namun anehnya, sampai pukul 11.00 WIB tidak ada suster ataupun petugas Rumah Sakit yang mendatangiku. Dengan sigap suamiku menghampiri para petugas itu. Setelah beberapa menit suamiku kembali dan mengatakan kalau sedang ada pemadaman bergilir di kota ini. Baru bisa kembali menyala pukul 17.00 WIB. “Apa tidak ada Genset?” tanyaku heran. “Mereka bilang Gensetnya sedang dalam perbaikan..” kata suamiku lembut. Hmmh. Pada akhirnya operasi sinusitisku dilakukan esok harinya karena harus menyesuaikan jadwal Dokternya. Dalam benakku, “untung hanya aku yang mengalami penundaan operasi karena Pemadaman listrik GILIRAN ini. Bagaimana jika itu dialami oleh pasien-pasien lain yang akan, atau malah sedang melakukan operasi besar yang taruhannya adalah nyawa?”. Hmmh.
***


Listrik sudah menjadi bagian dari hidup manusia. Noah bilang “separuh aku dirimu”. Aktivitas apapun pada zaman ini membutuhkan energy listrik, dari aktivitas seperti mencharge Handphone sampai proses pembuatan kerangka mobil semuanya menggunakan energy listrik. Dari memasak sampai aktivitas rapat di gedung DPR juga membutuhkan energy listrik. Namun apa jadinya ketika pelayanan penggunaan sumber energy listrik ini lemah? Maka kisah-kisah seperti diatas akan sering terjadi dan bukan tidak mungkin bisa berujung kepada kematian?. Maka dari itu ketika komitmen PLN yang baru dengan tag line besarnya menyatakan “menjalankan praktek penyelenggaraan korporasi yang bersih dan bebas dari praktek korupsi, kolusi dan nepotisme, sekaligus menegakkan Good Corporate Governance (GCG) dan anti korupsi dalam penyediaan tenaga listrik bagi masyarakat” maka saya sebagai masyarakat Indonesia yang juga pengguna listrik yang taat sangat gembira. Karena pada dasarnya praktek korupsi dimanapun akan sangat merugikan pihak siapapun, baik itu lembaganya, karyawannya, pelayanannya hingga fasilitas dan utilitesnya sampai ke pelanggannya pun akan terkena dampak buruk dari korupsi. Bayangkan ketika korupsi sudah masuk ke wilayah PLN, maka aktivitas kerja disana akan amburadul. Karyawan atau pun pimpinan akan setengah-setengah melakukan tugasnya karena orientasinya bukan lagi pelayanan tetapi hanya UANG dan KEUNTUNGAN. Karyawan akan santai, leha-leha, mungkin malah facebook-an atau main game di komputer ketika jam kerja. Pun ketika akan membeli peralatan-peralatan baru yg dibutuhkan. Ketika korupsi sudah mendarah daging, bukan tidak mungkin peralatan yang dibeli berkualitas KW 3 atau rendahan karena para pimpinannya sibuk menghitung keuntungan dari proyek pengadaan fasilitas tersebut.

Maka sekali lagi, ketika sebuah lembaga, apalagi lembaga milik Negara yang tugasnya adalah melayani masyarakat, yang dibutuhkan adalah orang-orang yang berdedikasi tinggi pada tugas, loyal pada lembaga, soleh atau berprilaku mulia, berkeyakinan kuat terhadap kebaikan, sehingga praktik korupsi akan sulit masuk ke orang-orang tersebut. Sehingga nantinya pelayanan bagi masyarakat akan sesuai tujuan PLN  semula.

.

Saya, kami, sebagai masyarakat pengguna listrik yang taat, mengharapkan kinerja PLN sekarang semakin baik dan bebas dari praktik korupsi. Kami mengharapkan dari semua jajaran di PLN agar sungguh-sungguh dalam melaksanakan tugasnya, karena itu adalah tugas Negara, bukan tugas main-main. Ketika Anda semua (jajaran PLN dari karyawan sampai Direksi) main-main atau tidak serius dalam melaksanakan tugas itu, untuk apa dahulu anda mengirim aplikasi surat lamaran kerja ke PLN dan dibawah undang-undang / peraturan atau mungkin sumpah jabatan Anda akan bertugas dengan baik penuh tanggung jawab?.

.


Semoga dengan cerita diatas dan sedikit tulisan ini dapat memberi setitik harapan agar bangsa yang besar ini memiliki lembaga yang juga besar, baik itu dari segi kuantitasnya mapun kualitasnya. Saya harap itu ada di PLN.
Theme images by andynwt. Powered by Blogger.

Blogger templates

 

© Kehidupan, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography