04 April 2010

cara menolak yang halus


Sebagai orang yang sudah (dianggap) dewasa, seharusnya kita bisa menempatkan diri kita pada situasi apapun yang tentunya membutuhkan kedewasaan dalam bersikap. Salah satu sifat dewasa yang sulit dilakukan adalah : menolak dengan cara yang baik. Saia (dan juga kita semua) bisa belajar mengenai teknik ‘cara menolak yang halus’ dari bapak teman saia yang aseli orang Jogja ini.

Teman saia, Jefri, aseli Jogja, sudah lama naksir dengan seorang perempuan yang bernama Tiara, mahasiswi, aseli jogja pula. Dan ternyata, seteleh melewati tahap ‘ritual’ penjajakan dan sebagainya, akhirnya cinta Jefri diterima sang perempuan, walau “proklamasi cinta” Jefri dilakukan di gang sempit pinggir selokan dekat rumahnya.

Singkat cerita, usia hubungan mereka telah mencapai 2 tahun dan Jefri berniat menaikan tingkat hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Tapi sayang seribu duaratus lima puluh sayang, ayah Tiara ternyata tidak menyetujui hubungan mereka yang selama ini memang dilaksanakan dengan cara “backstreet”.

Namun, akhirnya Jefri memberanikan diri akan mendatangi ayah Tiara untuk menyampaikan maksud hatinya yang mulia yaitu : melamar.

Setelah diterima di rumah Tiara, duduk dan ngobrol seadanya, akhirnya Jefri angkat bicara, “Pak, kami sudah saling cinta. Kami pun sudah melewati angka kedua dalam tahun dalam membina hubungan cinta ini. Maka dari itu, saia berniat melamar putri bapak. Bolehkah saia menikahi anak bapak?” Jefri sudah merangkai kata-kata itu seminggu sebelumnya…

Tapi ternyata (lagi-lagi), ayah Tiara menolak permintaan pemuda itu. Karena pertimbangan: Jefri pengangguran, setelah SMA dia tidak bekerja apalai kuliah, Jefri terkenal pemuda yang ugal-ugalan, dsb yang menurut ayah Tiara lebih banyak nehgatifnya ketimbang positifnya. Hanya saja, ayah Tiara ini tidak sampai hati menolak keinginan pemuda ini. Ia tidak tega menyakiti pemuda ini. Karena memang Ia juga ingin menjaga wibawanya sebagai seorang pemuka agama di kampungnya.

Dengan bijak, ayah Tiara berkata (dengan nada kalem, santun dan tenang) : “Begini Nak Jefri, Bukan saia keberatan. Tapi tunggulah saat yang tepat. Saat ini kan umur anak saia 20 tahun, dan umur nak Jefri 24 tahun. Jadi…. Tunggulah sampai umur kalian SAMA…”

Hmmh… Jefri kehilangan kata-kata :-D


inspirasi dari buku : GURITA (guyonan dari Istana: 220 fakta humor yang berdampak sistemik) Anggodo Aditjondro

0 komentar:

Theme images by andynwt. Powered by Blogger.

Blogger templates

 

© Kehidupan, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography